Kamis, 17 Februari 2011

PENYULUHAN BAHAYA NARKOBA BAGI PEMUDA DAN REMAJA KAPUAS

Diposkan oleh Syamsuddin Rudiannoor, S. Sos


Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Kapuas melaksanakan Penyuluhan dan Sosialisasi satu hari tentang “Bahaya Narkoba bagi Pemuda dan Remaja”  di kota Kuala Kapuas, hari Senin tanggal 14 Pebruari 2011.  Acara dibuka Wakil Bupati Kapuas, Suraria Nahan, dalam kapasitas beliau selaku Ketua Badan Narkotika Kabupaten Kapuas.

Kegiatan yang dilaksanakan di gedung kesenian “Gandang Garantung”  di sebelah kantor  Disporabudpar  Kabupaten Kapuas ini dihadiri oleh  sekitar 100 orang remaja yang diundangan dari siswa-siswi  SMP Negeri 1, 2, 3, 4 dan 7 Kuala Kapuas, SMPS Muhammadiyah, MTs N Selat, MAN, SMAS Kristen, SMU Negeri 1, 2, 3, SMK Negeri 1, 2, 3, SMAS Muhammadiyah, para mahasiswa Akper dan STAI Kuala Kapuas,  serta dihadiri pula oleh unsur-unsur organisasi anak muda:  Granat, Karang Taruna, Tagana dan LPAB.


Kepala Dinas Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Kapuas, Drs. Edy Lukman Hakim, MM menyampaikan: “Kami  mengajak para generasi muda dan lapisan masyarakat Kabupaten Kapuas untuk dapat menjauhkan diri dari pengaruh narkoba, minuman keras, psyikotropika serta obat-obatan memabukkan lainnya yang pada akhirnya dapat merusak akhlak dan mental para generasi muda.”

Kepala Dispora berharap, semoga upaya yang dilaksanakan ini dapat memberikan materi suluh dan sosialisasi yang tepat bagi generasi muda Kapuas sehingga  bahaya narkoba bagi kehidupan dan masa depan mereka dapat sampai sedini mungkin. Mudah-mudahan pengetahuan yang diperoleh dalam penyuluhan ini  mampu berdampak penting dalam mengetahui bahaya dan pengaruh buruk narkoba.


Bertindak selaku narasumber pada kegiatan ini adalah Kepala Kejaksaan Negeri Kuala Kapuas, Syaifudin Tagamal, SH yang diwakili oleh Rabiatul Adawiyah, SH, MH, Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Kapuas dr. Jum’atil Fajar  dan pembicara dari Kepolisian Resor Kapuas Iptu Sutarman.


Kepala Kejaksaan Negeri Kuala Kapuas dalam pemaparannya menyampaikan dasar-dasar hukum penanganan tindak pidana narkotika antara lain Undang-undang Nomor 5 tahun 1997 tentang Psikotropika dan beberapa peraturan lainnya tentang psikotropika golongan III dan IV.  Beliau juga menyampaikan Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009  tentang Narkotika serta Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. Dalam kesempatan itu beliau juga menyampaikan proses penuntutan bagi para pelaku tindak pidana narkotika. 


Pembicara penting lain dalam Sosialisasi ini adalah dr. Jum’atil Fajar dari BNK Kapuas. Pada intinya beliau menyatakan bahwa bahaya narkoba bagi kesehatan sangatlah buruk. Semua jenis obat - obatan yang disalah-gunakan oleh kebanyakan remaja akan sangat buruk pengaruhnya bagi kesehatan pada umumnya terutama memiliki efek yang buruk bagi  jantung dan pembuluh darah.




Rabu, 16 Februari 2011

KAPUAS JAWARA TARI KONTEMPORER DI LANJONG ART FEST 2011

e-Paper "BANJARMASINPOST" - Kamis 17 Februari 2011, mengabarkan prestasi membanggakan yang diraih Kabupaten Kapuas. "PRESTASI membanggakan ditorehkan remaja Kapuas di tingkat nasional. Ini setelah salah satu sanggar tari yang dikirim, berhasil meraih gelar juara terbaik pertama pada lomba tari kontemporer se-Kalimantan di Kutai Kertanegara, Kaltim".

Dalam Lanjong Art Festival 2011 yang digelar tanggal 5-13 Februari 2011 Kabupaten Kapuas yang diwakili Sanggar Tari  "Riak Nyalong" sukses menyabet dua gelar juara, yakni tari kontemporer terbaik serta penata rias dan busana terbaik. Penilaian ajang ini berlangsung ketat dan langsung dilakukan juri internasional, yang terdiri dari Rianto (Jakarta), Natsuki Hayashi (Jepang), Nicole Legette (Chicago, Amerika Serikat), serta Fitri Setyaningsih (Jogjakarta).



"Penampilan Sanggar Tari Riak Nyalong mampu  memukau ribuan penonton yang hadir saat itu, termasuk para juri yang melakukan penilaian," kata Pimpinan Sanggar Tari Riak Nyalong Ragus Rumbang.

Lonjong Art Festival merupakan agenda tahunan yang telah memasuki tahun kedua. Kegiatan dilangsungkan di Gedung Aulia Sport, Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Untuk memberikan semangat, sanggar tari yang kerap mengikuti sejumlah even serupa ini langsung disaksikan Ketua TP PKK Kabupaten Kapuas yang juga pembina Sanggar Tari Riak Nyalong, Hj Aliyah Mawardi.


Dalam penampilannya, Riak Nyalong menampilkan tari berjudul "Luntung Batuah". Para penari merupakan remaja putra dan putri dengan penata tari Meironi dan Agus Timbang sebagai penata busana.



Ragus menyebut, tari yang ditampilkan saat itu  "Luntung Batuah" dalam bahasa Dayak Ngaju artinya sama dengan lanjung (lanjong) dalam bahasa Banjar, yakni sebuah wadah yang terbuat dari anyaman rotan sebagai tempat barang bawaan. Sedangkan batuah artinya berezeki. Luntung yang terbuat dari rotan dianyam ini diberi ragam hias motif Kalteng. Bagi masyarakat Kalteng, luntung sangat dibutuhkan, terutama ketika pergi ke ladang atau pergi sawah.




Selasa, 15 Februari 2011

MALAM RAMAH TAMAH PEMERINTAH KABUPATEN KAPUAS DENGAN PERTUKARAN PEMUDA INDONESIA-KANADA (PPIK)

Teks dan foto oleh Syamsuddin Rudiannoor, S. Sos



Rangkaian akhir dari penerimaan Pemerintah Kabupaten Kapuas atas kunjungan Pertukaran Pemuda Indonesia-Kanada (PPIK) adalah pada Jum’at malam (11/2/2011) diadakan malam ramah tamah di Gedung Kesenian Gandang Garantung Kuala Kapuas. Dalam kegiatan ini Bupati Kapuas, Ir HM Mawardi berkenan menyampaikan sambutan dan  memberikan cenderamata kepada perwakilan pemuda  Kanada. 



Malam itu rombongan  16 orang pertukaran pemuda Indonesia-Kanada ini  sangat menikmati suguhan malam kesenian  oleh Pemerintah Kabupaten Kapuas.  Mereka disuguhi kesenian daerah berupa  tari daerah oleh Sanggar Tari “Tingang Menteng Panunjung Tarung” pimpinan Erliansyah Narpan M Apoi dan lagu-lagu daerah dengan iringan organ tunggal.

Sebagai mana diketahui, Kabupaten Kapuas menerima  7 orang pemuda Kanada dan 9 orang pemuda Indonesia yang berasal dari Provinsi Papua, Kalimantan Tengah, Gorontalo, Yogyakarta, Jawa Timur, Bengkulu, Riau, DKI Jakarta dan Nusa Tenggara Timur.  Selama 4 hari berkegiatan di Kuala Kapuas, mereka mengaku sangat senang dan banyak sekali  menambah pengalaman yang luar biasa. Dan pada sisi lain, Pemerintah Kabupaten Kapuas melalui sambutan Bupati Kapuas  Bapak Ir HM Mawardi dan sambutan Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kapuas, Drs. Edy Lukman Hakim, MM, sangat senang dan berbangga hati menerima kunjungan para pemuda kedua negara.  


Sementara itu Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Kalimantan Tengah, Ir. Sadar Ardi, secara khusus memberikan semacam penawaran kepada Pemerintah Kabupaten Kapuas kiranya ada kesediaan untuk menjadi tuan rumah PPIK tahun-tahun mendatang. Atas tawaran ini, Bupati Kapuas menyambutnya dengan membuka kemungkinan itu dan mempersilakan Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kapuas mengkaji dan mendiskusikannya.

Dalam sambutannya di hadapan para pemuda dan undangan yang hadir, Bupati Kapuas Ir. HM Mawardi banyak berpromosi tentang keunggulan kebudayaan dan pariwisata kabupaten Kapuas. Beberapa poin yang beliau tekankan adalah  keaneka-ragaman budaya yang sebagian kecilnya ditampilkan malam ini. Beliau juga mempromosikan keunggulan kuliner Kapuas seperti Tapai  Amsterdam. Beliau juga menyinggung Kapal Susur Sungai Kabupaten Kapuas yang  akan dibangun tahun 2011 dengan dana Rp. 700 juta. Dengan kapal itu nantinya para wisatawan bisa mengunjungi beberapa titik obyek dan daya tarik wisata Kapuas seperti Betang Sungai Pasah, Pulau Telo hingga sampai ke Mandomai di kecamatan Kapuas Barat. Beliau juga mempromosikan pembangunan pusat budaya di Kompleks Betang Sungai Pasah. Sebagai mana diketahui, Kompleks betang Sungai Pasah  akan dibangun dalam tahun 2011 ini dengan dana sharing Pemerintah Kabupaten Kapuas dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah senilai Rp. 1,7 miliar.  


Dalam malam keakraban ini, para pemuda Indonesia–Kanada ternyata tidak kalah terampil  dalam urusan berkesenian. Buktinya mereka sangat kompak ketika menampilkan tari “Saman” dari Provinsi Nangro Aceh Darussalam, menyanyikan theme song film legendaries “Titanic” dan sangat kompak menarikan “poco-poco”.  Bahkan diakhir acara hiburan mereka sangat riang membawakan lagu penutup “Kemesraan”.



Salah satu momen yang cukup indah malam itu adalah kesan-kesan dari perwakilan pemuda yang dalam hal ini disampaikan oleh Ms Katie Moroney (Kanada) dan Nona Ulya N Efrina (Yogyakarta). Baru empat hari mereka bergaul di Kuala Kapuas ternyata sudah mampu menyapa para hadirin dengan ucapan “Selamat Hamalem”.  Malah Ms Katie Moroney sudah pandai pula berbalas pantun: “Kalau ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi. Kalau ada umur panjang, boleh kita berjumpa lagi”.




PERTUKARAN PEMUDA INDONESIA-KANADA (PPIK) KUNJUNGI KUALA KAPUAS


Pemerintah Kabupaten Kapuas kembali menerima kunjungan Pertukaran Pemuda Indonesia-Kanada (PPIK). Sebagai mana kunjungan tahun 2010, kunjungan tahun 2011 ini Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata selaku instansi teknis menyambut baik kunjungan wisata  para pemuda dari kedua negara.

Rombongan ke-16 orang pertukaran pemuda Indonesia-Kanada ini tiba di Kuala Kapuas pada Rabu siang (9/2), terdiri dari 7 orang pemuda Kanada dan 9 orang pemuda Indonesia yang berasal dari Provinsi Papua, Kalimantan Tengah, Gorontalo, Yogyakarta, Jawa Timur, Bengkulu, Riau, DKI Jakarta dan Nusa Tenggara Timur.  Ketibaan rombongan disambut langsung oleh Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kapuas, Drs. Edy Lukman Hakim, MM. 




Selama kunjungan di Kabupaten Kapuas yang direncanakan 3 hari, rombongan menginap di kota Kuala Kapuas. Mereka dijadwalkan akan mengunjungi  obyek dan daya tarik wisata Kuala Kapuas, antara lain desa wisata Dahirang guna menyaksikan proses pembuatan kerajinan getah nyatu dan pusat kerajinan anyaman. Disamping itu rombongan juga melaksanakan kegiatan lainnya termasuk menghadiri malam ramah tamah dengan Pemerintah Kabupaten Kapuas.

Sebagai mana dimaklumi, pusat kegiatan Pertukaran Pemuda Indonesia-Kanada  tahun 2011 di provinsi Kalimantan Tengah adalah di desa Sei Gohong, kecamatan Bukit Batu, kota Palangka Raya. Kedatangan mereka ke kabupaten Kapuas adalah dalam rangka mid program berupa  kunjungan wisata.  Selama di Kuala Kapuas ini para pemuda diharapkan bisa mengenal lebih dekat kekhasan budaya dan pariwisata kabupaten Kapuas terutama wisata kota Kuala Kapuas. 


Untuk pelaksanaan Pertukaran Pemuda Indonesia-Kanada tahun 2012 mendatang, kabupaten Kapuas ditawarkan  oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah sebagai pusat pertukaran pemuda apabila ada kesediaan.  Dengan demikian, kabupaten Kapuas  diberikan peluang sebagai pusat kegiatan PPIK di tahun-tahun hadapan.

Dalam kunjungan hari pertama mereka di kota Kuala Kapuas, para pemuda PPIK dijamu makan siang di kafe terapung  kota Kuala Kapuas.

   


Teks dan foto oleh Syamsuddin Rudiannoor, S. Sos

Selasa, 18 Januari 2011

KERA KABOLI

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, kera atau monyet dibagi kedalam klasifikasi ilmiah sebagai berikut:

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Primata
Upaordo: Haplorrhini
Parvordo: Catarrhini
Superfamili: Hominoidea
Gray, 1825
  
 
Familia
Hylobatidae
Hominidae
†Proconsulidae
†Dryopithecidae
†Oreopithecidae

Dengan demikian maka kera adalah anggota superfamilia Hominoidea dari ordo Primata. 

Dalam sistem taksonomi saat ini ada dua familia hominoid:
Banyak spesies kera saat ini memiliki status terancam karena hilangnya habitat mereka di hutan hujan tropis dan perburuan. Saat ini ada 8 genus hominoid yang belum punah, yaitu



KERA KABOLI, KERA KOTA KUALA KAPUAS
Pada hari Sabtu tanggal 27 November 2010 pukul 11.15 WIB, saya berangkat dari Buntok (ibukota kabupaten Barito Selatan) menumpang kapal (taksi air) KM Rosita Agung. Kapal berangkat dengan tujuan kota Kuala Kapuas (ibukota kabupaten Kapuas). 

Tepat pukul 06.05 WIB hari Minggu tanggal 28 November 2010, kapal tiba dan singgah di Pelabuhan Perusahaan Kaboli yang posisinya tidak jauh dari Jembatan Pulau Petak, kota Kuala Kapuas. Di sini kapal singgah untuk menurunkan penumpang yang ingin melanjutkan perjalanan ke kota Palangka Raya karena sudah menunggu 2 (dua) buah taksi travel jenis mobil Kijang Krista. 

Singgah di pelabuhan Kaboli bukan sekedar singgah dan melihat pemandangan pagi di ujung kota Kuala Kapuas. Ternyata dengan merapatnya kapal di pelabuhan, membuat mendekat pula sekawanan kera yang jumlahnya mencapai 10 (sepuluh) ekor. Sangat jelas kera-kera ini satu kelompok karena terdiri dari beberapa kera dewasa dan tiga ekor kera kecil. Artinya, masih ada kera liar yang hidup bebas di kota Kuala Kapuas. Rupanya kawanan kera-kera ini bersengaja  mendekat ketika ada kapal yang merapat, mungkin mereka mengharap makanan dari kapal yang datang. 


Kera-kera itu berlarian bebas di atas kapal tongkang milik Perusahaan Kaboli.  Fikir saya, seandainya  saja suasana semacam ini mampu dikelola, tidak menutup kemungkinan tongkang Kaboli dapat dijadikan  tempat memberi makan (feeding place) bagi satwa liar yang masih berkeliaran bebas. Tidak kah ini  sebuah atraksi yang menarik di tepi sungai Kapuas? Dan tidakkah lokasi tongkang Kaboli yang  hanya beberapa meter saja dari jembatan Pulau Petak kota Kuala Kapuas, sangat memungkinkan diupayakan sebagai daya tarik wisata kota Kuala Kapuas dimasa yang akan datang?


Ditulis dan diposkan oleh Syamsuddin Rudiannoor, S. Sos   

Senin, 17 Januari 2011

ENGGANG DI BUNDARAN KOTA KUALA KAPUAS






BUNDARAN KOTA KUALA KAPUAS
Satu upaya Kabupaten Kapuas yang perlu diapresiasi adalah berdirinya tugu bundaran kota Kuala Kapuas. Pada satu sisi dari bundaran ini menampilkan patung orangutan dan habitatnya. Dan pada dua tepi dari bagian bundaran ini terdapat dua patung burung enggang atau burung tingang.

Burung Tingang merupakan bagian sangat penting dari budaya Dayak Kabupaten Kapuas. Begitu pentingnya burung ini maka tidak heran Kabupaten Kapuas menempatkannya sebagai lambang daerah Kabupaten Kapuas dengan semboyan "Tingang Menteng Panunjung Tarung". 

Semoga  dengan bendirinya tugu, bundaran dan taman kota ini maka kabupaten Kapuas akan mampu  pula mempersiapkan habitat nyata bagi orangutan, burung tingang dan satwa endemik langka lainnya. 


BURUNG TINGANG SECARA ILMIAH
Dari Wikipedia bahasa Indonesia ( ensiklopedia bebas) didapat data bahwa burung Tingang adalah Enggang atau Rangkong dalam bahasa Indonesia.

Burung Enggang atau Burung Rangkong (bahasa Inggrisnya: Hornbill) adalah sejenis burung yang mempunyai paruh berbentuk tanduk sapi tetapi tanpa lingkaran. Biasanya paruhnya berwarna terang. Nama ilmiahnya adalah "Buceros" merujuk pada bentuk paruhnya dan memiliki arti "tanduk sapi" dalam Bahasa Yunani.

Burung Enggang tergolong kelompok Bucerotidae yang termasuk 57 spesies. Sembilan spesies dari padanya berasal endemik di bagian selatan Afrika. Makanannya terutama buah-buahan, juga kadal, kelelawar, tikus, ular dan berbagai jenis serangga.

Ketika waktunya mengeram, enggang betina bertelur sampai enam biji telur putih terkurung di dalam kurungan sarang, dibuat antara lain dari kotoran dan kulit buah. Hanya terdapat satu bukaan kecil yang cukup untuk burung jantan mengulurkan makanan kepada anak burung dan burung enggang betina.


Apabila anak burung dan burung betina tidak lagi muat dalam sarang, burung betina akan memecahkan sarang untuk keluar dan membangun lagi dinding tersebut, dan kedua burung dewasa akan mencari makanan bagi anak-anak burung. Dalam sebagian spesies, anak-anak burung itu sendiri membangun kembali dinding yang pecah tanpa bantuan burung dewasa.



Burung Tingang Lambang Budaya Dayak
Dalam budaya Kalimantan (Dayak), burung enggang (tingang) merupakan simbol "Alam Atas" yaitu alam kedewataan yang bersifat "maskulin". Di Pulau Kalimantan, burung enggang sakti dipakai sebagai lambang daerah atau simbol organisasi seperti di lambang negeri Sarawak, lambang provinsi Kalimantan Tengah, simbol Universitas Lambung Mangkurat dan sebagainya. Burung enggang diwujudkan dalam bentuk ukiran pada Budaya Dayak, sedangkan dalam budaya Banjar, burung enggang diukir dalam bentuk tersamar (didistilir) karena Budaya Banjar tumbuh dibawah pengaruh agama Islam yang melarang adanya ukiran makhluk bernyawa. Burung Enggang yang disamarkan wujudnya dipakai sebagai Tatah Hujung Pilis pada Rumah Banjar.



Burung Tingang Lambang Kabupaten Kapuas 



Inilah lambang kabupaten Kapuas yang dengan jelas menggambarkan Burung Tingang ditengah-tengah logonya. Sementara itu pada pita bersurat di bagian bawah dengan jelas pula menuturkan fisolofi daerah yang berbunyi: "Tingang Menteng Panunjung Tarung."


Ditulis dan diposkan oleh Syamsuddin Rudiannoor, S. Sos.

Jumat, 14 Januari 2011

Ramu Huran Je Basejarah intu Sungei Kapuas


Rabu, 15 Desember 2010
Inyalin baasa bara Karya Pujangga
Due paneser tradisional supa “karis” dengan “kancip” raksasa je panjang ah sakitar  1,5 (ije satengah) meter intu sungei Kapuas, persis huang penda jambatan Pulau Telo, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah.
Haranan awi panyupa jituh, warga Kampung Keramat palus “gigir”. Buhen maka ewen gigir?  Awi pandinun ji sinde tuh iete karis dengan kancip panyila pinang jite,  ukura dia kanarai buju-bujur raksasa.
Due paneser tradisional ji manyupa banda huran te iaitu Henry (21) dengan Yanto (28), warga RT 2.
Model karis jaman huran jite manyarupa balati dengan ba ukir intu kuluk ah.  Kalute kia dengan kancip hai, intu kuluk ah tege hiasan ije mirip burung suci khas Dayak  “burung tingang”.
Menurut auh Henry je supa ramu,  banda ji inyupa ewen te ianggap uluh are suci. Tege papire  keanehan sawaktu uluh dumah  mimbing banda te.  Ji bahanyi manigung karis rupa palus kejer  kejung lenge ewen. Makate manurut  dawaan ewen banda bara sanaman jite ianggap suci awi memperhati kajadian ji tege tuntang perkiraan umur ah ji 300 (telu ratusan) nyelu. Awi te maka Henry dia hakun manjual ramu karamat ayu awi ie sayang. ” Narai je tau imili kuh masih balabih, aku dia baniat manjual ramu jite awi ji tangkasulak ah aku dinum petunjuk huang nupi tuntang bisikan gaib,” auh ah ….

Tege hubungan sejarah dengan Kerajaan Bataguh
Kesimpulan sementara, senjata tradisional te puna tege kaita dengan Kerajaan Bataguh je iyakini uluh are puna puji mendeng nahap intu Kapuas. “Zaman jite Kerajaan Bataguh imimpin awi uluh bawi ji baaran Ratu Nyai Undang,” auh Manli, ije pambakas adat Dayak.

Menurut model ah, barang ramu kuno ji inyupa te beken sanjata sanaman khas Dayak Kalimantan Tengah.  Kakira uluh sanjata-sanjata te puna perangkat uluh huran je impuhun dengan banama atawa kapal khusus huang urusan manyarang lewu Kerajaan Bataguh. Perang kalahi hai ingakira tajadi sekitar nyelu 1400 Masehi.

 “Petak danum Kerajaan Bataguh meliputi areal ji lumbah intu Kapuas dengan Pulau Telo,” auh Manli. Ie menjelas, “Sahindai tuh puji kia inyupa uluh senjata intu Sungai Kapuas, dia kejau bara  pulau Telo. Panyupa tuh dinum uluh huang Mandomai, Kecamatan Kapuas Barat,  Kabupaten Kapuas. Dengan papire panyupa jituh maka bakuat dawaan palus analisi ji mambujur puji mendeng Kerajaan Bataguh huang Kapuas, kerajaan Dayak ji perang dengan uluh bara lewu kejau dipah laut.”

Auh ji dinun karis huran te, karis bakas ayu ukura tutu hai atawa ukuran raksasa. Kua karis te tege uju lubang. Lubang-lubang jite menunjukkan sanjata puna puji mamangsa kalunen. “Sama dengan  mandau senjata pedang khas Dayak, amun ie tege lubang intu puting ah, jite menandakan senjata puji kuman nyawa atawa mampanihau hambaruan kalunen,” auh ah.

Ketua Dewan Adat Dayak Kapuas, Angie Rohan, menyewut hal ji sama. Ie menduga, tege hubungan ji kuat antara banda-banda huran te dengan Kerajaan Bataguh. Kadue ramu jite ingakira baumur labih bara 300 nyelu. Auh ah, panyupa jituh merupakan untung tuah ji huang bahasa Dayak  inyewut  “katuahan” awi dia uras kalunen tau manyundau nasib kilau tuh. “Kawan ramu banda-banda jite tege kekuatan magis ah. Biasa uluh ji jadi penemu keris tumun tuh adalah kalunen pilihan,” auh beliau.


Inulis tuntang inerbit awi  Syamsuddin Rudiannoor, S. Sos